Rumput Laut Merah

Rumput Laut Merah

Rumput laut merah (divisi Thallophyta) memiliki sekitar 3000 jenis, contohnya Gelidium, Gigartina, Porphyra, Eucheuma, dan Laurencia.Rumput laut merah memiliki dinding sel selulosa dan sangat peka terhadap cahaya.Warna merah pada rumput laut merah dihasilkan oleh pigmen merah yang dominan yaitu fikoeritrin.Pigmen merah ini mampu menyerap cahaya biru dan ungu.Rumput laut merah banyak ditemui di perairan dalam dan memiliki sistem percabangan, ada yang tampak sederhana berupa filamen (ketebalan dan lebar berbeda-beda) dan ada yang berupa percabangan kompleks.Rumput laut merah memiliki talus yang bervariasi secara bentuk dan warna.Bentuk talusnya ada yang silindris, pipih, dan lembaran sedangkan warna talus bervariasi yaitu, merah, ungu, coklat, dan hijau.

Rumput laut merah dapat dibedakan dari thallus yang dimilikinya.Pada Eucheuma cottonii, thallusnya bercabang-cabang berbentuk silindris atau pipih, percabangannya tidak teratur dan kasar (sehingga merupakan lingkaran) karena ditumbuhi oleh nodulla atau spine.Ujungnya runcing atau tumpul berwarna coklat ungu atau hijau kuning.Spine Eucheuma cottonii tidak teratur menutupi thallus dan cabang-cabangnya. Permukaannya licin, berwarna hijau, hijau kuning, abu-abu sampai merah.Penampakan thallusnya bervariasi dari bentuk sederhana sampai kompleks (Ditjenkan Budidaya, 2004).

Menurut Dawes dalam Kadi dan Atmadja (1988) secara taksonomi rumput laut jenis Eucheuma cottonii dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Rumput laut dari jenis E.cottonii secara alami ditemukan pada daerah sekitar lintang 20 derajat khatulistiwa.Tepatnya tersebar di daerah Indo-Pasifik, mulai dari Afrika timur hingga ke Guam.Rumput laut ini umumnya ditemukan di kawasan perairan dagkal yang masih terendam air ketika surut.Selain itu juga mampu tumbuh di daerah dengan dasar berbatu maupun berpasir ataupun di darah terumbu karang dengan arus yang pelan.

Prasetyaningrum et al., (2013) menyatakan bahwa Eucheuma cottonii memiliki kemampuan dalam menghentikan reaksi berantai pada radikal bebas dengan cara mendonorkan atom hidrogen dan mengubahnya menjadi senyawa yang lebih stabil. Oleh karena itu antioksidan yang terkadung di dalam Eucheuma cottonni termasuk ke dalam senyawa antioksidan primer. Selain itu kandungan antioksidan yang ditentukan dengan metode DPPH pada Eucheuma cottonii menunjukkan % inhibisi sebesar 90% pada perbandingan pelarut dan ekstrak 3:1. Pada penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa Eucheuma cottonii dapat menghambat radikal hydrogen peroksida (H2O2) sebesar 10%. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan Karpanai et al., (2014) yang menunjukkan esktrak methanol pada Eucheuma cottonii mengandung senyawa flavonoid, fenol, dan alkaloid yang berpotensi sebagai antioksidan dan mampu menangkal aktivitas radikal peroksida (H2O2).

Kandungan senyawa aktif yang terdapat pada Eucheuma cottonii juga dapat berperan sebagai agen penyembuh (wound healing) pada tikus Sprague-Dawley dengan cara meningkatkan epitelisasi (pertumbuhan jaringan epitel) dan meningkatkan granulasi jaringan. Adanya ekstrakEucheuma cottonii memberikan pengaruh dalam percepatan penyembuhan luka (wound healing). Eucheumacottonii mengandung beberapa pigmen (fucoxanthin, astaxanthin, carotenoid) dan senyawa fenol (asam fenolat, flavonoid, dan tannin) yang memiliki potensi sebagai antioksidan dan berperan dalam mempercepat penyembuhan luka pada hewan coba (Fard et al., 2011).

Menurut Foon et al., (2013) ekstrak methanol Eucheuma cottonii memiliki kandungan total fenol sebesar 8.71 mg ekuivalen Asam Galat/gram ekstrak. Selain itu ekstraksi menggunakan metode maserasi menghasilkan nilai % inhibisi lebih besar pada Eucheuma cottonii yaitu sebasar 32.74% sedangkan pada metode soxhletasi hanya 31.44%.Hasil analisa fitokimia juga menunjukkan bahwa selain mengandung senyawa fenol, Eucheuma cottonii juga memiliki senyawa seperti alkohol, asam karboksilat, senyawa aromatik, ester, eter, dan alkana.

Alexa Rank | Wikipedia | Blog Directory| Iklan| SiteWide